Cikal Bakal Darul Hikmah

Oleh K. H. A. Mahally Salim

1. Mbah lebih alias sholeh Mbah labia (4) yang kemudian terkenal dengan nama Mbah Sholeh (2) adalah saudara ipar Mbah Malik (Cangga K.H.A. Mujib Abbas BUduran (3) bliau adalah prajurit pangeran Diponegoro yang mana setelah selesai perang di Ponegoro melawan penjajah belanda menebarkan agama islam di desa Prasung (4) Beliau memimpin pembangunan Masjid Baitul Muttaqin Prasung Tani dan yang meletakkan Qubbah kekep diatas Masjid tersebut pada sekitar Th. 1847 M. (5) Masjid dibangun diatas tanah waqof dari Mbah Kun yang hidup pada abad 19 M. (6) diyakini bahwa ajaran Islam yang dibesarkan oleh mbah Sholeh ini adalah ajaran agama Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (7) hal ini dapat dilihat dari beberapa fakta yang antara lain ialah :
a. Bentuk bangunan mimbar Masjid Baitul Muttaqin yang dilengkapi dengan tongkat Khutbah dan Bedug sejak dahulu kala yang menggambarkan budaya islam jawa yang merupakan ciri khas bangunan masjid model wali songo (8)
b. Peguron ngaji yang berada disebalah utara maqbaroh Prasung Tani timur yang diasuh oleh Mbah Syekh dan Mbah Tamhid pada akhir abad 19 M. Sampai awal abad 20 M. yang merupakan generasi penerus Mbah SHoleh dengan menggunakan kitab Sulam Safinah dan Bidayatul Hidayah dll. Dari Al Kutubul Mu’tabaroh dalam lingkungkan Ahlus Sunnah Wal Hidayah An Nahdliyyah dan Ahushiyah Toriqoh Qodariyyah (Reboan) (9)
c. Ubudiyyah kaum muslimin Desa prasung sejak dahulu hingga kini adalah Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyyah

Desa Prasung menjadi markas Lasykar Hizbulloh untuk menghadang tantara Belanda yang bermarkas di Desa Betro Sedati telah dibenarkan oleh Bpk. K. H. Hasyim Latif salah seorang komandan Lasykar Hizbulloh yang memasang bom ledakan di Buk sumber Buduran untuk memutus jalur transportasi agar tank-tank Belanda tidak bisa bergerak kea rah selatan (Kota Sidoarjo)

LAHIRNYA DARUL HIKMAH

Setelah Nahdlatul Ulama tampil sebagai pemenang dalam pemilu pertama di Indonesia pada tahun 1955 (masuk partai 4 besar) Maka PC NU Sidoarjo menggelar Pendidikan kade secara besar-besaran yang diikuti ranting-ranting NU sekabupaten sidoarjo yang dilaksanakan dalam bulan Romadhon di MI NU Kutuk Sidoarjo. Amanat pokok yang diberikan oleh PCNU Kab Sidoarjo kepada para kader Nu yang terdidik itu ialah agar memperjuangkan berdirinya Madrasah, Majlis Ta’lim, Badan Amil Zakat dan pertanu, disetiap ranting NU. (18)

Dalam kesmpatan itu ranting NU prasung yang diketuai H. M. Yasin Ali mengirim 2 kadernya yaitu, H. M. Salim dan H. Ahmad Muji yang saat itu menjabat sebagai sekertari dan wakil sekertari ranting NU Prasung (19)

Sebagai tindak lanjut dari hasil kaderisasi tersebut maka H. M. Yasin Ali dengan didampingi 2 Kader petinya serta jajaran pengurus ranting NU Prasung mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama’ (MINU) dengan bimbingan langsung dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU cabang sidoarjo pada tahun 1957. (20) Namun seiring dengan kuatnya pengaruh politik nasioanal dibawah pemerintahan ordebaru terhadap wilayah Pendidikan NU dalam dekade 70 nama MINU terpaksa kemudian diubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Darul Hikmah (21)

Pada tahap awal tepatnya pada Th Ajaran 1947/1958 perolehan siswa sebanyak 27 anak dengan seorang guruyang sekaligus api madrasah yang Bernama Mafhum santri pondok pesantren Al Khozini Buduran asal Jombang dengan seorang guru piket H. M. Salim yang mana pelaksanaan kegiatan belajar mengajarnya di Musholla Darus Salam Prasung Tani timur (sekarang wilayah RT IVI RW III) Pada tahin ajaran berikutnya 1958/1959 kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke rumah Pak Jai’un RT VI RW III(22)

Pengurus Madrasah Ibtidaiyyah Darul Hikmah berupaya untuk memiliki Gedung madrasah sendiri yang permanen. Maka H. M. Yasin Ali melakukan Sholat Istikhoroh yang kemudian memperoleh fision dalam bentuk Ru’yah yang memperlihatkan keadaan dimana Nampak kuwade besar nan indah serta anggun berwibawa bagai singgah sana raja yang tergelar diatas tanah pekarangan H. Sa’dulloh yang terletak disebelah timur maqbaroh Prasung Tani barat (sekarang RT IV RW II) dalam waktu yang hamper bersamaan H. Sa’dulloh juga berkehendak untuk menawarkan tanahnyaitu sebagai Waqfiyyah buat madrasaah Darul Hikmah. Iabarat gaung bersambut maka setelah berbincang empat mata H. M. Yasin Ali dan H. Sa’dulloh untuk membangun Gedung madrasah diatas tanah tersebut dengan disambut gembira oleh para pengurus Madrasah IbtidAAaiyyah Darul Hikmah (23)

Maka dibangunlah Gedung yang permanen dengan ukuran5,5 X 9 M dari barat membangun ke timur menghadap kearah selatan (jalan desa) dengan dilengkapi tera, jading dan sumur. Pembangunan Gedung ini dapat diselesaikan dan ditempati pada tahun ajaran 1985/1959 (08-11-1958/Jumadil Awal 1137)(24) dengan demikian secara detail bulan mei 1957/11 syawal 1376 adalah berdirinya Madrasah Ibtidaiyyah Nahdlotul Ulma’ (MINU) yang kemudian diubah nama menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Darul Hikmah (MIDH) yang sebagai mata rantai dari madrasah Diniyyah Islamiyyah yang tidaj berjlanjut yang memiliki keterkaitan erat dengan visi perjuangan Nu dalam bidang Pendidikan dan sesuai dengan karakter muslimin Desa Prasung yang sanny yang dahulu di bangun oleh Mbah Labai Sholeh wa Ash Habihi wa a’asanihi

Perkembangan Darul Hikmah

Pada akhir tahun ajaran 1959/60 ma’sum mengundurkan diri dari tugasnya sebagai guru dan kepala madrasah Darul Hikmah karena pulang ke kampung halamanya. Sebagai gantinya pengurus MIDH mengangkat K. H. M. Yasir Kholil sebagai guru sekaligus kepala MIDH pada awal tahun ajaran 1960/61.

Jumlah murid pada tahun ini telah mencapai diatas 100 siswa sehingga Gedung MIDH tidak mampu menampungnya terpaksa KBM untuk Sebagian kelas diletakkan didepan teras rumah H. M. Yasin Ali Ikhtiar pengurus MIDH untuk menambah bangunan Gedung berukuran 5,5 M x 8 M plus teras berhail pada tahun 1961/62 sehungga bangunan Gedung MIDH menjadi bentuk huruf L (2) pada tahun ajaran selanjutnya jumlah murid semakin bertambah banyak sehingga pengurus MIDH menambah bangunan Gedung lagi berukuran 5,5 M x 9 M2 plus teras sehingga bangunan berbentuk huruf T yang bagian atasnya (timur) memanjang kekiri (utara).

Bangunan selesai dan dapat ditempati pada tahun 1964(3)

Pada tahun ajaran 1964/65 adalah tahun pertama kalinya MIDH mengikutsertakan anak didiknya dalam ujian persamaan akhir yang yang diselenggarakan oleh LP Ma’arif NU Cabang Sidoarjo Sebanyak 12 Siswa Siswi kelas 6 dan berhasil lulus 65 th suatu capaian yang cukup mengesankan menurut ukuran saat itu. Adapun ujian MIN saat itu belum ada semakin berta,bah tahun jumlah siswa MIDh semakin bertambah banyak sehingga jumlah ruang belajar tidak mampu menampungnya Alhamduliulllah upaya pengurus MIDH dalam menambah ruang belajar seluas 6 M x 21 M. Plus teras tekel berhasil pada tahun 1972 sehingga bangunan Gedung MIDH berbentuk huruf T dan I (4).

Bangunan Gedung baru itu membujur dari barat ke timur menghadap ke selatan yang terletak disebelah utara bangunan Gedung lama diatas tanah waqof dari H. M. Yasin dan beli kepada salman.

Pada akhir tahun ajaran 1977/78 K. H. M. Yasir Kholil telah mengundurkan diri dari guru dan kepala midh karena disamping usianya yang sudah mencapai usia pensiun juga banyaknya aktifitas beliau sebagai aktifis di MWCNU Buduran dll. Maka pengurus MIDH menetapkan H. A. Mahally Salim sebagai kepala MIDH atas dasar hasil pilihan dalam rapat guru MIDH pada tahun ajaran 1978/79 ruang belajar sudah tidak mampu menampung jumlah yang semakin bertambah banyak karena itu pengurus MIDH menambah bangunan Gedung lagi seluas 7 M x 21M. Plus teras membujur dari selatan keutara dengan menghadap ketimu yangterletak disebelah barat Gedung baru yang berbentuk I sehingga beralih bentuk huruf T maka seluruh bangunan Gedung MIDH berbentuk T dan T terbalik bangunan Gedung ini telah selesai pada akhir tahun 1979 (5). Tahun ajaran 1982/83 jumlah siswa MIDH mencapai angka 402 anak jumlah ini merupakan puncak tertinggi sejak MIDH didirikan tahun 1957 hingga monografi ini disempurnakan tahun 2013 M. bangunan pergedunganya terdiri dari 10 ruang belajar, 1 kantor, 1 perpustakaan, dilengkapi dengan jading, sumur, Wc dan Gudang.